A.gama dan filsafat adalah aspek fundamental dalam sejarah kehidupan manusia. Semua orang yang mengetahui sejarah agama dan mendalami filsafat tentu tidak akan meragukan peran sentral keduanya yang saling bahu-membahu dalam memajukan peradaban manusia, lihatlah betapa sejarah membuktikan akan hal tersebut dengan sangat nyata, kita melihat pesatnya peradaban Romawi setelah ditetapkannya Kristen sebagai agama resmi kekaisaran besar itu, dan kita juga melihat betapa cahaya ilmu nampak terang tatkala filsafat ditetapkan sebagai salah satu cabang dari ilmu pengetahuan di yunani.
Banyak sekali agamawan yang mencoba untuk memisahkan Agama dan filsafat lantaran mereka beranggapan bahwa keduanya mempunyai perbedaan yang ekstrim dan sangat tidak mungkin untuk disatukan, tetapi usaha pemisahan ini terlihat tidak membuahkan hasil karena untuk menjelaskan hukum-hukum eksistensi dialam yang masih membutuhkan pengkajian dan analisa yang mendalam adalah dengan cara pendekatan filsafat.
Jika agama ada untuk menjelaskan tentang eksistensi dialam dan untuk memberikan pengertian tentang tujuan akhir dari sebuah kehidupan, maka masih adakah ketidak serasian antara agama dan filsafat.? Tentu semua dari kita mengetahui hubungan antara dalil Naqli dan Aqli yang begitu harmonis, begitu juga agama dan filsafat. Sekarang saya baru melihat bahwasanya Agama selalu menjadi guru pembimbing bagi kedewasaan berfikir yang bercorak filsafat, lantaran Agama selalu saja memberikan asumsi-asumsi suci kepada filsafat untuk dijadikan bahan kajian, sebaliknya agama juga membutuhkan filsafat sebagai alat untuk menjelaskan, memahami serta menghayati doktorin-doktorin yang dibawanya.
Anselm seorang teolog sekaligus filosof abad pertengahan didalam bukunya “proslogion” mengucapkan kata-kata yang amat menarik, dia berujar. “Saya beriman agar saya mengetahui”. Tidak dapat disangkal bahwa Anselm meyakini motivasi seseorang untuk melakukan kajian serta penelitian yang mendalam tentang hal ihwal agamanya adalah keimanan yang melekat kuat didalam diri orang itu sendiri, lebih jauh lagi bahwa keimanan dapat menjadi inspirasi munculnya ilmu pengetahuan baru. Kesempurnaan iman dan penghayatan mendalam tentang agama adalah berbanding lurus dengan kesempurnaan rasionalitas seseorang, semakin tinggi tingkat rasionalitas seseorang maka akan tinggi juga keimanan dan apresiasi nya terhadap ajaran agamanya ,hal ini sejalan dengan firman Allah didalam surah ali imran ayat 191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
Substansi dari semua agama adalah meyakini akan eksistensi tuhan, sementara eksistensi tuhan tidak akan pernah bisa dibuktikan dengan dalil dari agama itu sendiri, hanya logika lah yang mampu menjelaskan dan menjabarkannya. Walaupun agama dan aqal sama-sama merupakan ciptaan tuhan, tetapi karena posisi aqal yang berada didalam tubuh manusia dan kehadirannya yang dapat dirasa manusia tidak akan pernah bisa menafikannya. Sementara lantaran agama berada diluar tubuh manusia dan kehadirannya pun hanyalah berupa janji-janji yang masih tidak terjadi dijaman sekarang, maka tidak semua manusia yang mempercayainya. Dengan demikian hanya aqallah dalil yang dapat kita jadikan sebagai bukti dari eksistensi tuhan. Seseorang yang tidak menyakini akan adanya tuhan, lantas apalah arti dari dalil-dalil agama baginya..?
Kalau kita melihat lebih dalam kepada Al-qur’an, maka kita akan melihat dalil-dali tentang eksistensi Allah yang bersifat rasional, seperti firman Allah didalam surah Luqman dibawah ini
10. Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.
11. Inilah ciptaan Allah, Maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. sebenarnya orang- orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.
Allah Swt tidak menurunkan Al-qur’an dengan argumentasi-argumentasi yang buram dan tak berdasar, semua argumentasi didalam al-qur’an kuat dan terang. Semua itu dimaksudkan agar semua manusia tidak berada dalam gelapnya taqlid dan supaya manusia memberdayakan aqal yang telah iya berikan, iya menyebut orang yang memberdayakan aqal pikiranya dengan Ulul Albab.
Memang filsafat secara history berasal dari negeri kafir, yakni yunani. Namun pada nyatanya filsafat ada pada setiap diri orang-orang yang berfikir dan mau meluangkan waktunya untuk merenungi ciptaan tuhan. Setiap ilmuan adalah filosof, terlepas ia ilmuan muslim atau pun tidak. Yang paling penting janganlah kita mendefinisikan filsafat sebagai suatu kumpulan dari gagasan, pemikiran atau perspektif para filosof yang diantara mereka ada yang salah dan benar, diantara mereka ada yang bertuhan dan tidak, dan diantara mereka ada yang muslim dan tidak. Tapi definisikanlah filsafat seperti alam semesta yang tak berujung, karena luasnya cakrawala pemikiran manusia sesungguhnya seperti alam semesta yang tak berujung dan terus meluas. Rasionalitas manusia adalah pemberian Allah maka gunakan lah iya dijalan yang diridhoi-Nya.
Waallahu’alam Bishowab Rongsokan Jaya’s blog
Banyak sekali agamawan yang mencoba untuk memisahkan Agama dan filsafat lantaran mereka beranggapan bahwa keduanya mempunyai perbedaan yang ekstrim dan sangat tidak mungkin untuk disatukan, tetapi usaha pemisahan ini terlihat tidak membuahkan hasil karena untuk menjelaskan hukum-hukum eksistensi dialam yang masih membutuhkan pengkajian dan analisa yang mendalam adalah dengan cara pendekatan filsafat.
Jika agama ada untuk menjelaskan tentang eksistensi dialam dan untuk memberikan pengertian tentang tujuan akhir dari sebuah kehidupan, maka masih adakah ketidak serasian antara agama dan filsafat.? Tentu semua dari kita mengetahui hubungan antara dalil Naqli dan Aqli yang begitu harmonis, begitu juga agama dan filsafat. Sekarang saya baru melihat bahwasanya Agama selalu menjadi guru pembimbing bagi kedewasaan berfikir yang bercorak filsafat, lantaran Agama selalu saja memberikan asumsi-asumsi suci kepada filsafat untuk dijadikan bahan kajian, sebaliknya agama juga membutuhkan filsafat sebagai alat untuk menjelaskan, memahami serta menghayati doktorin-doktorin yang dibawanya.
Anselm seorang teolog sekaligus filosof abad pertengahan didalam bukunya “proslogion” mengucapkan kata-kata yang amat menarik, dia berujar. “Saya beriman agar saya mengetahui”. Tidak dapat disangkal bahwa Anselm meyakini motivasi seseorang untuk melakukan kajian serta penelitian yang mendalam tentang hal ihwal agamanya adalah keimanan yang melekat kuat didalam diri orang itu sendiri, lebih jauh lagi bahwa keimanan dapat menjadi inspirasi munculnya ilmu pengetahuan baru. Kesempurnaan iman dan penghayatan mendalam tentang agama adalah berbanding lurus dengan kesempurnaan rasionalitas seseorang, semakin tinggi tingkat rasionalitas seseorang maka akan tinggi juga keimanan dan apresiasi nya terhadap ajaran agamanya ,hal ini sejalan dengan firman Allah didalam surah ali imran ayat 191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
Substansi dari semua agama adalah meyakini akan eksistensi tuhan, sementara eksistensi tuhan tidak akan pernah bisa dibuktikan dengan dalil dari agama itu sendiri, hanya logika lah yang mampu menjelaskan dan menjabarkannya. Walaupun agama dan aqal sama-sama merupakan ciptaan tuhan, tetapi karena posisi aqal yang berada didalam tubuh manusia dan kehadirannya yang dapat dirasa manusia tidak akan pernah bisa menafikannya. Sementara lantaran agama berada diluar tubuh manusia dan kehadirannya pun hanyalah berupa janji-janji yang masih tidak terjadi dijaman sekarang, maka tidak semua manusia yang mempercayainya. Dengan demikian hanya aqallah dalil yang dapat kita jadikan sebagai bukti dari eksistensi tuhan. Seseorang yang tidak menyakini akan adanya tuhan, lantas apalah arti dari dalil-dalil agama baginya..?
Kalau kita melihat lebih dalam kepada Al-qur’an, maka kita akan melihat dalil-dali tentang eksistensi Allah yang bersifat rasional, seperti firman Allah didalam surah Luqman dibawah ini
10. Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.
11. Inilah ciptaan Allah, Maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. sebenarnya orang- orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.
Allah Swt tidak menurunkan Al-qur’an dengan argumentasi-argumentasi yang buram dan tak berdasar, semua argumentasi didalam al-qur’an kuat dan terang. Semua itu dimaksudkan agar semua manusia tidak berada dalam gelapnya taqlid dan supaya manusia memberdayakan aqal yang telah iya berikan, iya menyebut orang yang memberdayakan aqal pikiranya dengan Ulul Albab.
Memang filsafat secara history berasal dari negeri kafir, yakni yunani. Namun pada nyatanya filsafat ada pada setiap diri orang-orang yang berfikir dan mau meluangkan waktunya untuk merenungi ciptaan tuhan. Setiap ilmuan adalah filosof, terlepas ia ilmuan muslim atau pun tidak. Yang paling penting janganlah kita mendefinisikan filsafat sebagai suatu kumpulan dari gagasan, pemikiran atau perspektif para filosof yang diantara mereka ada yang salah dan benar, diantara mereka ada yang bertuhan dan tidak, dan diantara mereka ada yang muslim dan tidak. Tapi definisikanlah filsafat seperti alam semesta yang tak berujung, karena luasnya cakrawala pemikiran manusia sesungguhnya seperti alam semesta yang tak berujung dan terus meluas. Rasionalitas manusia adalah pemberian Allah maka gunakan lah iya dijalan yang diridhoi-Nya.
Waallahu’alam Bishowab Rongsokan Jaya’s blog
wah2...