A.LKISAH, di sebuah desa, hiduplah seorang ulama miskin yang sangat disegani. Dia selalu berusaha mengajak penduduk disekitarnya untuk menyembah tuhan dengan meniggalkan tradisi menyembah pohon-pohon besar yang diyakini memiliki kekuatan gaib yang bisa mensejahterakan warga sekitar.
Suatu hari ulama itu mendengar bahwa tak jauh dari desanya terdapat pohon yang sering didatangi penduduk untuk memohon keberkahan dari pohon itu. Mendengar hal itu sang ulama mengambil parang dan bergegas untuk memberikan khutbah dan kalau perlu ia akan menebang pohon itu. Di tengah jalan, rupanya setan yang menjelama sebagai seorang pemuda yang bertubuh kekar telah menghadang untuk menghalangi usaha ulama tersebut.
Setealah terjadi perdebatan, akhirnya terjadilah perkelahian fisik antara ulama yang kecil ,kurus dan lemah tadi melawan pemuda gagah bertubuh kekar yang tidak lain adalah rupaan dari setan. Pada akhir perkelahian, pemuda yang gagah itu kalah dan terjatuh dihadapan sang ulama. Maka setelah mengalahkan musuhnya, ulama itu pun pergi menuju rombongan masyarakat yang sedang melakukan ritual penyembahan terhadap pohon dengan maksud memberikan khutbah dan jalan keluar supaya tidak ada lagi penduduk yang masih saja bertindak bodoh menyembah sebatang pohon yang pohon itu pun tidak bisa membela dirinya sendiri ketika ia mau ditebang.
Selang beberapa waktu, ritual sesat yang dilakukan masyarakat itupun kembali terjadi. Setelah mendengar kabar demikian, ulama yang ikhlas itupun kembali berusaha untuk mencegah perbuatan syirik yang amat sangat dimurkai oleh Allah dengan cara menebang pohon yang dianggap keramat oleh warga desa tersebut, namun ditengah perjalanannya, setan yang berwujud pemuda itupun kembali mencegatnya serta membujuk ulama itu agar jangan menebang pohon sambil menyodorkan cek sebesar 2 juta rupiah sebagai tanda terimakasih kalau ulama itu tidak jadi menebang pohon keramat yang menjadi tumpuan usaha setan dalam menyesatkan warga disana. Ulama tadi pun merasa terhina, akhirnya perkelahian antara keduanya tidak bisa dihindarkan lagi, dan lagi-lagi pemuda bertubuh kekar itupun kembali kalah. Akan tetapi karena sikap warga penyambah pohon itu tidak mau pohon keramat mereka ditebang, maka ulama tadi memberikan sebuah kesepakatan antara dia dan segenap warga di desa itu, kesepakatan itu berbunyi : “Saya tidak akan menebang pohon setan ini, kalau kalian semua tidak akan lagi menyembah dan mengantarkan sesajian kepadanya ”. Karena kesepakatan itu dianggap sama-sama menguntungkan maka masyarakat itupun setuju dan berjanji untuk tidak melakukan hal itu lagi.
Setan sangat tidak senang dengan kesepakatan yang dijalin oleh masyarakat dan ulama itu, dia kembali menyamar sebagai seorang pemuda yang gagah, tampan dan berwibawa. Ia kembali memprovokasi warga agar jangan menghiraukan kesepakatan mereka dengan ulama itu, dan menyuruh mereka kembali untuk melakukan ritual agar terhindar dari malapetaka dan kesengsaraan yang selama ini mereka takutkan akan terjadi. Karena kecerdikan setan, maka banyak warga yang kembali terpengaruh dengan hasutannya dan kembali melakukan ritual penaruhan sesajien diseputar pohon keramat agar roh-roh penjaga pohon tersebut tidak marah dan menimbulkan bencana.
Betapa kagetnya sang ulama ketika ia kembali mendengar hal yang memanaskan kepala dan kupingnya, ia pun bergegas mengambil sebilah kapak dan langsung berjalan menuju kerumunan warga yang sedang menundukkan kepala mereka dihadapan pohon besar yang di anggap keramat itu, ditengah perjalanan ia merasakan perutnya sangatlah lapar, sekarang ia barulah ingat kalau sudah dua hari ia belum makan apapun, selain ia tidak mempunyai apapun, ia juga sangat sibuk dengan ilmu dan amal, jadi baru sekarang ia merasakan lapar yang begitu sangat, perutnya berasa sangat pedih. Karena saking laparnya, ulama itu sempat berfikir seandainya pemuda tadi datang dan menawarkan uang barang seratus ribu saja untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokoknya selama satu bulan maka ia akan menerimanya dan tidak akan menebang pohon itu. Baru saja ulama itu menanti datanglah pemuda yang ditunggunya, namun ulama itu kaget karena pemuda tadi tidak samasekali menawarkan negosiasi yang menguntungkan untuk dirinya, pemuda itu malah menantangnya untuk berkelahi, karena sempat menang dua kali maka ulama itu sangat percaya diri dan ia merasa tidak takut dengan tubuh kekar yang dimiliki pemuda itu. Akhirnya mereka berkelahi sengit, pukulan demi pukulan diterima ulama tua itu sampai ia tidak bisa berdiri lagi, pertarungan pun dimenangkan telak oleh setan yang menjelama menjadi seorang pemuda berotot.
Ketika pulang dan sudah sampai dirumah, ulama itu merenung, “mengapa dahulu aku dengan mudahnya menang melawan pemuda itu, tapi mengapa sekarang aku kalah.?” Keluhnya
Ia memutuskan untuk sholat dan memohon petunjuk kepada Allah, setelah selesai sholat ia sadar dan mengerti mengapa ia kalah. “Perkelahian pertama dan kedua aku menang karena aku melakukannya semata-mata karena Allah, tetapi ketika perkelahian ketiga aku melakukannya karena aku tersinggung dengan pemuda itu, karena ia samasekali tidak menyinggung uang kompromi yang ia telah janjikan, bahkan ia juga menantangku berkelahi. Sekarang aku mengerti pada perkelahian ketiga, aku tidak melakukannya karena Allah, tetapi aku melakukannya karena Nafsuku sendiri.”
Ulama tadi telah kehilangan the power of ikhlas.
Category:
Kisah
0
komentar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Komentar :
Posting Komentar