A.qal dan nurani merupakan anugerah yang amat berharga, apa gunanya manusia kalau ia tidak mempunyai dua hal tersebut, tanpa aqal manusia akan dicemooh sebagai orang gila dan kalau manusia tidak mempunyai nurani ia akan lebih bejat dari seekor binatang. Fungsi aqal dan nurani bagaikan satu keping uang logam yang memiliki dua sisi berbeda, mereka berdua saling bergantung, tanpa salah satu ia tidak akan pernah bisa dibarterkan.
Aqal memiliki fungsi yang amat sangat berguna bagi kehidupan seorang manusia, dengan Aqal manusia dapat memperluas daratan dan membendung lautan, dengan aqal manusia mengirim dirinya untuk terbang kebulan yang bahkan burung pun tidak mampu mencapainya, dengan aqal juga manusia dapat mengarang dan membentuk dunia imajinasi yang terlihat begitu nyata. Namun ternyata fungsi aqal sangatlah terbatas dalam mengintervensi kehidupan kita, tidak semua yang kita lakukan dengan mengarah pada pemikiran aqal sehat, bahkan nurani pun tidak akan mampu membedakan baik dan jahat tanpa adanya ideologi sehat bernama agama yang mendukung nurani tesebut untuk melakukan itu. Dan tidak semua yang ada dialam semesta ini dapat dijelaskan dengan aqal sehat yang kita miliki. Meskipun Allah telah menyuruh kita untuk terus memikirkan tanda-tanda kebesarannya, akan tetapi ujung-ujungnya kita tetap saja tidak mampu untuk memikirkan exsistensi Allah itu sendiri. Singkat kata Aqal tidak akan mampu melakukan kajian terhadap ajaran Allah dan Allah nya sendiri tanpa adanya petunjuk dari Yang Maha Kuasa berupa wahyu.
Kolaborasi Fungsi antara aqal dan wahyu selalu saja mengundang perdebatan dalam menentukan siapa diantara kedua unsur itu yang seharusnya lebih dominan dalam memikirkan persoalan agama islam, akhirnya perdebatan yang tiada akhir itu pun berujung pada pemecahan islam kepada dua sakte besar pengusung dua ideologi yang berbeda, Asy ‘ariyah yang bercorak tradisional dan Mu’tazilah yang lebih bercorak rasional. Yang bercorak rasional lebih banyak memberikan ruang terhadap aqal untuk memikirkan segala sesuatunya termasuk dalam urusan teologi, dalam pandangan mereka aqal dapat mengetahui tuhan, kewajiban mengetahui tuhan, baik dan jahat, kewajiban mengerjakan sesuatu yang baik dan kewajiban untuk meninggalkan sesuatu yang bersifat kejahatan. Sedangkan aliran tradisional lebih membatasi ruang gerak aqal dalam segala hal, kecuali untuk mengetahui tuhan, selebihnya mereka mempercayakannya kepada wahyu. karena memang salah satu fungsi dari adanya Rasulullah dan fungsi diturunkannya Al-qur’an adalah sebagai petunjuk dan pedoman manusia dalam meniti kehidupan di dunia ini, sebagai mana yang difirmankan Allah SWT dalam surah Al baqorah
Inilah kitab (Al Quran) yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.
Pada dasarnya, aliran yang lebih berorientasi pada wahyu tidak terlalu mengekang kebebasan intelektual, tetapi dapat kita katakan wahyu adalah sebagai sarana pembatas agar kebebasan intelektual tidak merembet kepada sesuatu yang dapat membahayakan aqidah seseorang. Kalau bisa kita ibaratkan, maka wahyu adalah sebagai pembatas jalan yang lazim kita sebut sebagai trotoar, sedangkan aqal adalah mobil. Trotoar befungsi sebagai penghalang dikala sebuah mobil mulai oleng dan mengarah kejalan yang arusnya berlawanan, seandainya tidak ada trotoar maka mobil tadi pun akan menabrak mobil lain yang tidak searah dengan nya, bukan hanya pengemudi mobil yang oleng itu yang akan celaka tapi pengemudi lain yang tidak tau-menaupun ikut celaka. Namun wahyu dapat juga di ibaratkan sebagai rem kaki dan rem tangan pada sebuah mobil yang siap menjaga mobil dan pengemudinya agar tidak terjadi ancident.
Saya pribadi mengatakan tidak pantas kita semua untuk membebaskan sebebas-bebasnya aqal pikiran kita dalam menentukan hukum-hukum syari’at dan apalagi hukum-hukum yang berbau teologi, untuk itu mari kita posisikan aqal kita sebagai pendukung wahyu bukan wahyu yang mendukung aqal kita. Imam ‘ali karamaallahu wajhah pun pernah berkata:
لَوْ كاَن الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكاَن أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ، وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلىَ ظاَهِرِ خُفَّيْهِ
“Kalau sekiranya agama itu dari akal niscaya bagian bawah khuf1 lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap punggung (atas) khufnya.” (HR. Abu Dawud 162, Al-Baihaqi 1/292, Ad-Daruquthni 1/75, Ad-Darimi 1/181, Al-Baghawi 239, dan Ahmad 943&970. Dishahihkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah di dalam kitab At-Talkhis Al-Khabir 1/160)
Dalam sebuah riwayat Umar ibn Al-khattab juga berkata yang redaksinya jauh lebih mengerikan dari perkataan Imam ‘Ali diatas, berikut kata-kata beliau: Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu: “Hati-hati kalian dari pemuja akal karena mereka adalah musuh-musuh As Sunnah. Amat berat bagi mereka untuk menghafal hadits sehingga mereka berkata dengan apa yang dihasilkan oleh akalnya, mereka tersesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Lalikai 1/23, Al-Faqih wal Mutafaqqih karya Al-Baghdadi 1/180, dan Ibnu Abdul Bar di dalam kitab Al-Jami’, 274)….waallhu’alam bishawab
Category:
pemikiran gue
0
komentar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Komentar :
Posting Komentar