D.emokrasi sudah menjadi kata yg amat populer dikalangan kita sebagai rakyat indonesia. Kata yg acap kali disebut-sebut diberbagai media ini ternyata memiliki komponen yg sangat simpang siur, belum lagi dalam tataran praktiknya demokrasi sering mengalami perubahan-perubahan dan penyesuain-penyesuain,sehingga dalam penerapannya seringsekali bersifat trial and error, atau sebagaimana yang dikatakan oleh para pengusungnya bahwa sebenarnya demokrasi itu bersifat projek. Sesudah itu juga demokrasi telah menjadi suatu tatanan yang membingungkan, karena mengalami perbedaan-perbedaan menurut keyakinan, adat, serta kepentingan pibadi sang pengusung tonggak demokrasi itu, sehingga menimbulkan berbagai macam warna dalam demokrasi itu sendiri. Itulah yang menjadi sebab beragamnya pengertian yang menimbulkan jargon seperti demokrasi islam, demokrasi sosial dll. Maka dari itu saya pribadi memplesetkan kata demokrasi menjadi democrazy karena memang sebenarnya demokrasi adalah gila dan gila itu merupakan isi dar demokrasi.
Democrazy dan Islam merupakan suatu hubungan yang amat sangat membingungkan, disatu sisi islam terkesan sangat berhubungan dekat dengan yang namanya demokrasi, disisi yang lain islam justru besikap seperti anjing dan kucing ketika berhadapan kembali dengan sistem skulerisme yang dianut oleh pemerintahan yang berasaskan demokrasi, hal ini dikarenakan sistem skuler jauh bertolak belakang dengan aturan islam yang amat konkrit disegala bidang. Didalam sebuah buku yang berjudul Islamka Deklaracia mengungkapkan bahwa, “keunikan Islam adalah kerena ia mempunyai perspektif holistik dimana norma-norma agama adalah sebuah praktik politik yang korektif, sehingga agama itu sendiri menjadi wahana untuk memperbaiki khalayak, dan bukannya mengkhianatinya. Secara tidak langsung buku itu inginmengatakan bahwa islam merupakan agama yang merujuk kepada dua buah nilai agar kedua nilai tersebut menjadi sebuah tatanan yang seimbang, spritual dan sosial. Kedua nilai yang menggambarkan kesempurnaan wujud dari seorang manusia inilah yang ingin dipisahkan oleh konsep skulerisme barat yang terkandung dalam asas demokrasi.Kesamaan yang ada pada islam dan demokrasi sebenarnya merupakan suatu pernyataan bahwa islam merupakan agama yang fleksibel serta tegas terhadap penganutnya, karena tegas dan fleksibal merupakan sesuatu yang dianut oleh islam sejak abad pertama agama ini lahir, tegas dan fleksibel yang dianut islam telah terbukti mampu mengantarkan bangsa arab yang tidak mempunyai peradaban menjadi suatu bangsa yang memiliki peradaban tinggi disertai dengan moral akhlak yang sempurna. Saya akui memang demokrasi memiliki dua sifat tersebut dalam tigkat sosial, sehingga demokrasi mampu mengantarkan bangsa-bangsa penganutnya menjadi super power dunia, namun perbedaan telak antara Islam dan demokasi sekuler yang dianut oleh indonesia dan negara-negara barat sebagai pengusungnya justru telah mampu membuat negara-negara itu kehilangan nilai-nilai moral yang sangat penting bagi peradaban manusia, itu disebabkan oleh sistem demokrasi sekuler yang memisahkan urusan moral dengan sosial.Banyak dari politikus indonesia menganggap bahwa pendidikan moral bukanlah tanggung jawab negara, kalau saja semua orang dipemerintahan beranggapan demikian, apajadi nya indonesia kita diabad berikutnya nanti. Ironis, moral penduduk indonesia dibunuh oleh sistem yang mereka agungkan.
Yang menjadi jalan keluar adalah dengan cara menghapus sekulerisme dari badan demokrasi indonesia,biarkan pemerintah membangun kerjasama dengan pemuka agama supaya tercipta masyarakat madani yang bermoral, tak peduli agama apapun itu, yang terpenting sekarang adalah , kembalikan Indonesiaku yang bermoral...!!!!!

Komentar :
Posting Komentar